KEHIDUPAN PERMUKIMAN PINGGIR SUNGAI: HARMONI WARGA SAMBAS DAN PANORAMA ALAM

KEHIDUPAN PERMUKIMAN PINGGIR SUNGAI: HARMONI WARGA SAMBAS DAN PANORAMA ALAM
SAMBAS — Sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Sambas, terdapat kawasan permukiman yang hingga kini belum terhubung dengan jalan beraspal. Di Kampung Setambah dan Kampung Semakuan, Desa Semanga, Kecamatan Sejangkung, kehidupan masyarakat masih sangat bergantung pada sungai sebagai urat nadi aktivitas sehari-hari.
Hamparan sungai yang tenang dengan latar belakang Pegunungan Senujuh yang hijau menghadirkan panorama alam yang masih asri. Di sepanjang tepian sungai, rumah-rumah panggung khas Melayu Sambas berdiri berjajar rapi, mencerminkan warisan arsitektur tradisional yang tetap dipertahankan dari generasi ke generasi.

Di tengah kawasan permukiman tersebut, terlihat pula sejumlah fasilitas penunjang, seperti menara telekomunikasi dan sebuah masjid berkubah hijau kebiruan yang menjadi pusat ibadah sekaligus tempat berkumpul dan berinteraksi bagi masyarakat.
Aktivitas warga berlangsung sederhana namun penuh semangat. Perahu-perahu tradisional tampak bersandar di depan rumah-rumah panggung, sementara dermaga-dermaga kecil menjadi akses utama mobilitas masyarakat. Bagi warga setempat, sungai bukan hanya bentang alam, melainkan jalur transportasi, sumber mata pencaharian, serta bagian penting dari identitas kehidupan mereka.
Perpaduan keindahan Pegunungan Senujuh, kejernihan perairan, dan permukiman tradisional memperlihatkan kemampuan masyarakat Melayu Sambas dalam beradaptasi dengan lingkungan tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur.
Hingga kini, permukiman tepian sungai di Desa Semanga tetap menjadi salah satu potret kehidupan khas masyarakat pesisir sungai di Kabupaten Sambas. Selain mempertahankan tradisi hidup selaras dengan alam, kawasan ini juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis budaya, alam, dan ekowisata yang dapat menarik minat wisatawan sekaligus mendorong pelestarian lingkungan dan budaya lokal.(Amrul Bidik News)